Catatan Dari Seminar Kedaulatan Pangan IKA UNHAS Jabodetabek

13062090_10206260405250539_7048760306706195781_n
Sambutan dari Menteri Pertanian RI DR.A.Amran Sulaiman saat membuka Seminar Nasional Kedaulatan Pangan IKA UNHAS Jabodetabek di Bogor, 20 April 2016

Bertempat di IPB International Convention Center, Botanical Square, Bogor, Rabu 20 April 2016 IKA UNHAS Jabodetabek telah melaksanakan acara Seminar Kedaulatan Pangan dengan tema “MODERNISASI SISTEM MEKANISASI PERTANIAN UNTUK MENCAPAI KEDAULATAN PANGAN”. Acara yang dibuka oleh Menteri Pertanian DR.Andi Amran Sulaiman ini dihadiri oleh kurang lebih 150 peserta yang berasal dari beragam latar belakang profesi dan keilmuan. Dalam kata sambutannya, Menteri Pertanian–yang juga adalah alumni Universitas Hasanuddin ini– menyambut baik seminar ini untuk merangkum gagasan-gagasan konstruktif membangun Kedaulatan Pangan Nasional. Beliau mengharapkan agar rumusan hasil seminar dapat diimpelentasikan secara konkrit dengan berkoordinasi bersama pihak terkait, termasuk IKA UNHAS Jabodetabek.

12472608_10206259291062685_4423244569444576003_n

Sementara itu, Rektor UNHAS, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA dalam kata sambutannya menegaskan Sektor pertanian tetap merupakan perioritas utama dalam pemerintahan JOKOWI-JK, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sekotor pertanian, pemenuhan pangan merupakan ancaman global, dan sektor pertanian masih merupakan sektor strategis. Oleh karena itu sektor pertanian menjadi penting bagi pelaku di bidang pertanian, industri, dan akademisi.Perspektif Akademisi adalah mencari solusi dari persoalan/masalah yang ada.

Ketua IKA UNHAS Jabodetabek, A.Razak Wawo, menyatakan bahwa seminar Kedaultan Pangan ini merupakan rangkaian program IKA UNHAS Jabodetabek yang sebelumnya sudah menggelar kegiatan serupa di bidang Maritim dan Energi. “Diharapkan, rumusan-rumusan dari seminar ini akan kami ajukan sebagai kontribusi konstruktif IKA Unhas Jabodetabek bagi pengembangan industri Pertanian Nasional”, ujarnya optimis.

Sejumlah panelis yang memiliki kompetensi dalam bidangnya masing-masing hadir dan ikut menyampaikan pendapat dalam seminar ini. “Kedaulatan Pangan adalah hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk memproduksi pangan secara mandiri, dan hak untuk menetapkan system pertanian, peternakan, dan perikanan tanpa adanya subkoordinator dari kekuatan pasar internasional.Konsep Kedaulatan Pangan di digagas oleh Organisasi Tani Internasional sebagai bentuk perlawanan terhadap konsep Ketahanan Pangan karena telah gagal mengatasi masalah kelaparan di Dunia.Konsep ini terus berkembang dengan cepat dan telah diadopsi oleh berbagai organisasi dan institusi, termasuk Lembaga dunia FAO. Hasil analisis Situasional Pangan saat ini: harga fluktuatif dan distorsi, produksi yang sentralistik dan belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, dan kelembagaan yang belum optimal dalam menjalankan perannya. Pencapaian Kedaulatan Pangan bagi masyarakat RI sangat medesak, mengingat komsumsi pangan terus meningkat akibat pertambahan penduduk yang terus meningkat. Namun ironisnya areal lahan sektor pertanian tidak mengalami peningkatan secara siginifikan, bahkan cenderung menurun akibat peralihan lahan pertanian yang produktif menjadi areal non pertanian. Oleh karena itu Pembangunan Sektor Pertanian perlu dukungan Politik dari Pemerintah dan Lembaga Negara seperti DPR,” demikian ungkap Ir. H. E. Herman Khaeron,M.Si (Ketua Komisi IV DPR RI).

“Pembangunan Pertanian Memerlukan Moderenisasi untuk mengubah image pertanian yang identik dengan kumuh, sulit, beresiko dan pusat kemiskinan menjadi bergensi, terukur dan menjamin. Basis moderenisasi adalah merubah image pertanian dan memberikan jaminan terhadap ketidak pastian dan resiko melalui kebijakan dan penerapan teknologi. Salah satu solusinya adalah Mekanisasi Pertanian. Litbang Mekanisasi Pertanian memberikan dukungan penuh dalam pencapaian swasembada pangan dan kedaulatan pangan melalui pengembangan teknologi mekanisasi untuk usaha tani padi, palawija, hortikultura, biofarmaka, perkebunan, dan bahan bakar nabati. Litbang Pertanian juga memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan melalui berbagai program kerja yang bertujuan untuk peningkatan produksi dan kesejahteraan petani,” kata Balitbang Kementan Prof.DR.Erizal Jamal.

Prof.Ir.Muslim Salam, PhD dalam uraiannya mengungkapkan Kelemahan strategi pembangunan pertanian di Indonesia adalah : Dis-kontinuitas, terfragmentasi, dan tidak focus. “Untuk mengatasi hal tersebut,” katanya,” secara garis besar dikemukakan dua gagasan utama untuk moderenisasi pertanian yaitu : a. Reorientasi fungsi petani/kelompok tani dari fungsi transfer knowledge ke fungsi business oriented,  Mepertemukan petani dengan pengusaha (pelaku bisnis). Tantangan Pembangunan Pertanian di Indonesia : Peningkatan ketahanan pangan dan penyediaan bahan baku industry; Globalisasi Perdagangan dan Investasi (ERA MEA); Peningkatan Mutu SDM Pertanian; Penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan; Operasional pembangunan berkelanjutan dan terbangunnya industry pertanian. Untuk menghadapi tantangan tersebut Paradima Pembangunan pertanian harus berbasis agribisnis, berkelanjutan, dan mengembangkan paradima baru dalam sektor pertanian”.

“Data statistik menunjukkan bahwa masih banyak petani yang belum mencapai tingkat kesejahteraan, oleh karena itu sektor pertanian diidentifikasi sebagai pusat kemiskinan. Data statistik juga menunjukkan semakin berkurangnya rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian, khususnya pada kelompok usia muda (<35 tahun),menyebabkan regenerasi petani mandek. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian makin ditinggalkan walaupun angka statistic juga menunjukkan sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Hal tersebut menjadi ancaman bagi ketahanan pangan nasional. Sehingga dibutuhkan kebijakan yang mendukung peningkatan taraf hidup petani sehingga pertanian menjadi lapangan kerja yang menarik. Usaha tanaman pangan (padi, jagung, kedelai) masih padat karya walaupun tren penggunaan alsinta semakin meningkat sepanjang tahun 2008 hingga 2014, oleh karena itu diharpkan ada peningkatan bantuan mendapatkan  pinjaman dari bank  dengan prosedur yang mudah, bunga ringan dan jaringan yang diperluas.,” tambah Kasubdit Statistik Tanaman Pangan Kadarmanto, MA, PhD.

13087814_10154241170202625_985250760040637666_n

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti menyatakan,”Moderenisasi system mekanisasi pertanian memerlukan inovasi dengan berbagai strategi penguatan inovasi untuk mencapai balance supply and demand. Beberapa model penguatan inovasi yang telah dikembangkan oleh Kemenritek, antara lain : Start Up industry benih padi IPB3S dan Pengembangan industry pembibitan sapi local berbasis IPTEK di Maiwa Breeding Centre UNHAS. Pertanian modern menuntut pemanfaatn mekanisasi pertanian sebagai penentu peningkatan produksi pertanian nasional, oleh karena itu mekanisasi pertanian penting utamanya pada tahap penyiapan lahan, penanaman, penyiangan, pengairan/irigasi, pemanenan, pascapanen, pengemasan, dan penyimpanan, serta pengolahan”.

“Sektor pertanian di Indonesia mengalami perbagai permasalahan sehingga sektor pertanian menjadi kurang menarik sebagai sumber pendapat masyarakat, sehingga tenaga kerja dibidang pertanian semakin berkurang, oleh karena itu mekanisasi pertanian meruapakan suatu solusi untuk mengatasi keurangan tenaga kerja tersebut. Kebutuhan pertanian pada masa kini dan akan datang antara lain komsumsi segar akan semakin diminati, teknologi proses agroindustry, dan teknik manajemen agribisnis. Oleh karena itu peran agroindustry sangat penting untuk memberikan nilai tambah pada komoditas pertanian, dan agroindustry butuh dukungan mekanisasi pertanian sebagai bagian dari pertanian modern,”kata Guru Besar IPB, Prof.DR.Ir.Irawadi Jamaran.

Sementara itu, Direktur Bank Rakyat Indonesia Mohammad Irfan mengungkapkan,”BRI merupakan salah satu bank nasional yang telah mendapat penghargaan dari pemerintah dan duania International seperti FAO, hal ini merupakan salah satu bentuk pengakuan kinerja BRI. Untuk mendukung sektor pertanian dalam mewujudkan kedaulatan pangan BRI telah mengucurkan berbagai program untuk menyalurkan kredit kepada pelaku di sektor pertanian, termasuk pada petani, total platfond kredit sektor pangan nasional mencapai Rp. 254 T atau share BRI sekitar 34%. Saat ini BRI telah meluncurkan aplikasi perbankan untuk petani melalui “Kartu Tani” yang multi fungsi dan memberikan manfaat bagi petani, BUMN yang terkait sektor pertanian, dan pemerintah”.

Ciri-ciri pertanian modern ala Indonesia menurut persepsi Prof. Ambo Ala (Guru Besar Unhas) yang juga hadir sebagai panelis dalam seminar tersebut, adalah : tidak merusak moral, nilai dan kearifan local; menghidupkan “ local and indigenous knowledge”; resillien terhadap ancaman ekonomi, lingkungan, dan biologi; efektif dan efisien, produkstif dan menguntungkan; dan tidak eksploitatif sumberdaya. Tentu hal ini perlu penyamaan persepsi. “Moderenisasi sistem mekanisasi pertanian, tambahnya lagi,”sangat penting dalam pencapaian kedaulatan pangan karena mekanisasi berperan, antara lain : meningkatkan produksi, mengurangi tingkat kerusakan pascapanen, meningkatkan pertise pertanian bagi generasi muda, menjadi bagian integral dengan intensifikasi pertanian dan pertanian berkelanjutan, meningkatkan efisensi/keuntungan petani sehingga dapat mengurangi kemiskinan dan memperkuat ketahanan pangan, dan mengatasi kelangkaan tenaga kerja. Oleh karena itu moderenisasi pertanian dengan mekanisasi pertanian harus didukung dengan ketersediaan teknisi dan suku cadang yang tepat.”.

Ir.Arus Gumawan (Direktur Industri Permesinan & Alat Mesin Pertanian), menyampaikan pendapat, menurutnya,” Visi kebijakan pengembangan industri alsintan di indonesia adalah “ Struktur industry alsintan yang kokoh, mandiri, modern dan berdaya saing tinggi. Industri mesin pertanian dalam negeri memiliki potensi dalam memenuhi kebutuhan mesin/peralatan pertanian domestik, beberapa alat dan mesin pertanian yang telah diproduksi dan tersedia di pasaran antara lain : (a) ALSIN Pra panen untuk mempercepat dan meningkatkan mutu pengolahan tanah,meningkatkan efisiensi dalam penyediaan air,  serta mempercepat waktu tanam dan tanam serempa; (b) ALSIN Panen untuk mempercepat kegiatan panen dan mengurangi kehilangan hasil, misalnya jenis Alsintan : Paddy mower, Reaper, Combine harvester; (c) ALSIN Pascapanen  untuk mengurangi kehilangan hasil, meningkatkan kualitas hasil, misalnya Power thresher, Dryer, Rice, Milling Unit.Selama tahun 2011-2015 telah memberikan bantuan ALSITA kepada petani/kelompok tani yang bersumber dari APB dan Non APBN.

Beliau kemudian menegaskan Perlu adanya dukungan Pemerintah secara total untuk mendukung pengembangan industri mesin pertanian dalam negeri melalui penerapan program P3DN. Maka melalui seminar ini diajukan usulan yaitu : Harmonisasi tarif bea masuk industri mesin/peralatan pertanian mulai dari industri hulu,menengah dan hilir; Peningkatan kompetensi SdM industri melalui pelatihan bersertifikasi; Peningkatan transfer teknologi dari Balai Penelitian dan Pengembangan maupun Perguruan Tinggi kepada produsen agar mampu mengembangkan kemampuan rancang bangun/disain, fabrikasi, dan manufaktur; PPN dan PPh tidak dipungut/tidak dikenakan, untuk pemanufaktur industri mesin/peralatan pertanian dalam negeri untuk pembeliaan bahan baku dan komponen lokal; Merevisi peraturan-peraturan kebijakan insentif fiskal yang terkait dengan industri alatmesin pertanian dalam negeri secara terintegrasi dan komprehensif”.

Catatan:

Presentasi Panelis dapat diunduh disini

Unhasian.com adalah platform media komunitas. Setiap penulis bertanggungjawab atas tulisannya masing-masing.

Jangan Lewatkan: