Pada Malam Penegasan Kembali Makna Independensi

10565004_716979725047994_8833776710235011089_nPada tanggal 30 Agustus 2014 itu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tepat berusia 20 tahun. Ah, bukan tepat sebenarnya, sih. Sudah lewat 3 minggu. Ulang tahun AJI itu tepatnya pada tanggal 7 Agustus. Karena berbagai pertimbangan, di Makassar baru bisa diselenggarakan tanggal 30 Agustus. Usia yang sudah bisa dikatakan dewasa untuk sebuah organisasi.

Tanggal 30 malam itu, AJI menyelenggarakan resepsi ulang tahunnya di Smile Aerotel, mengambil tema Menegaskan Kembali Makna Independensi. Agak terkejut juga saya mendapatkan sambutan berupa kesempatan berfoto di photo booth, setelah mengisi presensi.

Saya mengedarkan pandangan di sekeliling ball room Samudera. Saya tak menangkap wajah yang saya kenali di antara hadirin yang duduk pada meja-meja bundar yang tersebar di dalam ruangan luas itu. Aih, mana ya teman-teman yang bersama-sama saya mengikuti pelatihan menulis dan kritis media yang dilaksanakan AJI tempo hari?

Tak mungkin berlama-lama celingak-celinguk, saya pun berjalan ke arah sebuah meja yang dihuni oleh 3 orang, seorang perempuan muda dan 2 orang laki-laki. Saya tersenyum pada perempuan muda yang ternyata seorang jurnalis itu dan bertanya apakah ada orang yang duduk di kursi di sebelahnya. Yaya – nama jurnalis perempuan muda itu tersenyum dan memberi isyarat tangan, mempersilakan saya duduk di sebelahnya.

Tak lama setelah wali kota Makassar, M. Ramdhan Pomanto beserta nyonya memasuki ruangan, acara pun dimulai. Gunawan Mashar – ketua AJI Makassar memberikan sambutannya.

Menurut Gunawan, AJI dan wali kota Makassar sudah berkomitmen untuk membatasi penganggaran untuk jurnalis. Pemberian amplop kepada jurnalis, dinilai AJI mempengaruhi independensi wartawan.

Ketika media dan jurnalis berbondong-bondong memihak salah satu capres-cawapres pada pemilihan presiden baru-baru ini, AJI mengambil sikap tegas dengan aktif menyuarakan pentingnya independensi dan netralitas.

Eko Maryadi, mantan ketua AJI Makassar yang sekarang menjadi ketua AJI Indonesia menuturkan banyak hal. Ia membuka sambutannya dengan menceritakan kronologi terbentuknya AJI di tahun 1994. Setelah pembredelan 3 media massa oleh rezim orde baru ketika itu, sejumlah jurnalis melakukan perlawanan dengan mendirikan AJI. Salah satu alasannya adalah karena kurang responsifnya organisasi wartawan waktu itu.

10665271_716979875047979_1929140323781152905_nKini, sebagai komponen dari negara yang dikenal memiliki kebebasan pers di dalamnya, AJI akan terus memperjuangkan pers yang sehat dan kesejahteraan wartawan.

Pada pemilu baru-baru ini, AJI mendapati fakta bahwa ada sebagian pemilik dan pengelola media yang tidak fair. Sebagian pemilik dan pengelola media ini dinobatkan sebagai musuh kebebasan pers. Ini dia tiga di antaranya: MNC Group, RCTI, dan Metro TV. Mengapa? Karena mereka menggunakan frekuensi milik publik secara sewenang-wenang. Masyarakat harusnya mendapatkan informasi yang netral, bukannya informasi yang mendukung secara berlebihan salah satu calon sembari menghujat habis-habisan calon yang lainnya. Pers saat itu terbelah, masyarakat juga terbelah. Tapi AJI tetap netral dan tidak memusuhi wartawan.

Tahun 2011 AJI mengambil langkah tegas dengan mengingatkan banyak redaksi untuk menjalankan independensi. Sebagian meresponnya dengan positif, sebagian lainnya tidak. Seharusnya para jurnalis menolak menjadi “jurnalis kacung”.

Supaya para wartawan memebuhi standar kode etik jurnalis, AJI mengadakan Uji Kompetensi Jurnalis. Sebanyak 561 wartawan telah diuji secara nasional oleh 47 wartawan penguji. AJI yang kini beranggotakan 1.892 orang jurnalis yang tersebar pada 35 kota di seluruh Indonesia semoga semakin jaya mencetak jurnalis independen yang berintegritas. AJI melakukan hal-hal lain pula. Salah satunya adalah Festival Media, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang jurnalisme.

AJI juga meminta kepada presiden/pemerintah untuk menghapus dana pembinaan wartawan, baik dalam pos APBN/APBD. Adanya dana ini dipercaya menjadi penyebab penyakit “wartawan bodrex” karena sebagian wartawan menjadikannya sebagai salah satu sumber penghasilan. Padahal memberi amplop pada wartawan, baik dari pemerintah ataupun swasta itu sebenarnya menghina wartawan.

Sejumlah orang diminta oleh moderator untuk memberikan kesan/pesan selama bekerja sama/untuk kebaikan AJI. Sepanjang acara, pengunjung masih berdatangan. Meja bundar yang saya tempati mendapat tambahan 3 tamu lagi.

Setelah rentetan acara, wali kota M. Ramdhan Pomanto dan ketua AJI Makassar – Gunawan Mashar menandatangani MoU (memorandum of understanding) untuk penegakan independensi wartawan di kota ini.

Ilham Arief Sirajuddin – mantan wali kota yang baru memasuki ruangan, berkesempatan memberikan sambutannya. Setelah itu, seperti layaknya merayakan ulang tahun seseorang, wali kota dan nyonya, mantan wali kota, para anggota AJI, berdiri untuk menyanyikan lagu ucapan selamat ulang tahun dan potong kue.

***

Salut atas langkah tegas dan berani yang dilakukan AJI. Bekerja bersama dalam sebuah organisasi tentunya akan membuat sebuah keputusan bisa dengan lebih mudah dijalankan.

Besar harapan saya agar AJI bisa turut memperbaiki citra Makassar yang di luar sana banyak dicap negatif. Makassar kerap diidentikkan dengan kerusuhan dan tawuran karena berita-berita nasional sering memojokkan. Konon karena bad news is a good news sehingga kehebohan seperti kerusuhan dan tawuran lebih disukai oleh wartawan. Anehnya, daerah lain yang juga terjadi kerusuhan dan tawuran di dalamnya tidak serta-merta mendapatkan cap buruk. Seorang kawan blogger bahkan pernah beberapa kali mengatakan kepada saya secara blak-blakan bahwa pemberitaan media tentang Makassar membuatnya memiliki gambaran buruk tentang Makassar. Jujur, ini sempat membuat gerah.

Satu lagi harapan saya, ke depannya AJI bisa lebih memberdayakan lagi akun-akun media sosialnya dan giat menyosialisasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepada khalayak. Bukan untuk pencitraan tapi agar lebih diketahui oleh masyarakat luas. Sayang sekali kegigihan AJI untuk tetap memperjuangkan independensi ketika pilpres kemarin tidak diketahui seluruh lapisan masyarakat padahal saat itu banyak orang yang pesimis dengan kualitas media dan jurnalisnya berkenaan dengan pemberitaan yang memihak. Biar bagaimana pun AJI kan bagian dari masyarakat. Dengan lebih luasnya informasi yang tersebar di masyarakat, AJI akan lebih mudah mendapatkan dukungan dari masyarakat. Bukankah bersama-sama akan lebih kuat?

Makassar, 17 September 2014

Unhasian.com adalah platform media komunitas. Setiap penulis bertanggungjawab atas tulisannya masing-masing.

Jangan Lewatkan: