Inilah 5 Manfaatnya Jika Mubes IKA Unhas Digelar di Makassar

Unhas

Penulis: Denun (Alumni Kelautan Unhas, Founder PelaKita.id)

Begini.

Penulis selama hampir tiga tahun menjadi saksi perjalanan tak biasa Kementerian Kelautan dan Perikanan, antara tahun 2016 hingga 2019.
Menjadi pendengar dan penyaksi bagaimana organisasi kampus dan alumn seperti UI, Unpad, ITS Surabaya hingga Undip intens memasok data dan informasi kepada Menteri Susi demi menghasilkan ide solutif.

Kampus dan IKA yang kreatif

Mereka, para elit kampus dan dedengkot organisasi alumni itu mengajak berdiskursus tentang pembangunan kelautan dan perikanan hingga mempromosikan alumni terbaiknya.

Misal, sivitas UI tampil dengan pikiran bagaimana memberantas Illegal Unreported, and unregulated fishing. Penulis pernah diajak mengikuti halal bi halal ILUNI UI di lantai 2 GMB III KKP dimana salah satu pesan yang muncul adalah ILUNI mendukung reformasi birokrasi dan pemberantasan IUUF.

Sementara, ITS mengusung konsep penguatan sumberdaya manusia kelautan dan perikanan dan ‘mekanisasi’ usaha perikanan dan kelautan.

Di sisi lain, Unpad dan Undip sabar mengantri untuk tema-tema budidaya perikanan hingga perikanan tangkap.

Pendek kata, banyak aksi ikatan alumni kampus-kampus utama itu demi menjadi mitra srategis KKP saat itu.

Saat berkunjung ke Kampus ITB nan megah, Unpad hingga UHO Kendari, orang-orang kampus antusias menawarkan diri sebagai bagian dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan itu. Kampus mengundang, organisasi alumni menawarkan konsep dan pakar.

Misalnya, kenapa sih harga pakan udang kita selalu mahal? Beri solusi dong. Adakah pakan alami? Sesimpel itu.

Ketertarikan Menteri Susi pada generasi muda bangsa untuk peduli potensi kelautan dan perikanan dijawab oleh kampus dan keluarga alumninya dengan mengajak kuliah umum, ceramah hingga aksi sosial.

Aksi-aksi tanam mangrove, wisata bahari, paddling hingga menggelar aksi bersih pantai adalah contoh bagaimana Pemerintah, kampus dan organisasi alumni berjibaku membangun masa depan negeri.

Sebagai alumni Ilmu Kelautan Unhas, tentu saya juga berharap agar Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu, pun bisa ke kampus tercinta.

Untungnya, kita Unhas, ada alumni Ilmu Kelautan yang jadi Dirjen Perikanan Tangkap, menjadi Kepala BRSDM KP di masa kepemimpinan Susi. Dan kawan kita itu meninggalkan legacy yang manis.

Nah, sosodara, ada setidaknya lima hal menarik yang bisa menjadi inspirasi dengan proses atau mekanisme keterhubungan mutualistik seperti itu.

Pertama, betapa transformasi kapasitas seperti pengetahuan atau wawasan berkelautan dan perikanan bisa dijalankan dengan komitmen nyata pemimpin di pusat untuk ‘menemui generasi’, untuk datang ke pusat-pusat pembangunan, untuk blusukan ke sentra-sentra Kelautan dan Perikanan.

Dengan harapan, bagaimana generasi muda maritim yang diharapkan oleh bangsa ini untuk mengelola laut, demi masa depan, didekati dan diajak bicara.

Kedua, pandangan bahwa kekuatan negara ini ada di daerah. Di kabupaten, di desa-desa, di kampus-kampus yang mendidik generasi.

Perlu titian yang efektif agar pertukaran pandangan, pengalaman, inspirasi antara ‘Negara’ dan kaum terdidik itu berdenyut demi memotret realitas negaranya dan sepaket, sepaket, bersama mengisi gap yang belum terisi.

Kesan waktu itu adalah MKP Susi pede aja berhadapan mahasiswa, jajaran akademik dan bertukar perspektif. Tidak ada sangkaan bahwa mahasiswa akan anarkistis, kasar dan akan buat chaos sebab kebijakannya out of the box. Fine, fine, aja.

Kesan bahwa akan ada huru-hara ketika Menteri fenomenal itu datang ke kampus, tidak terbukti, malah dieluk-elukkan.

Ketiga, saya membayangkan betapa bangganya almamater mereka saat itu, bahwa ada alumni mereka masuk line up Kementerian. Susi kerap membawa Dirjen dan tokoh asal kampus itu.

Tentu mereka, pejabat rektorat hingga tukang bersih bangga saat dijenguk atau disapa oleh alumni yang sudah berhasil karirnya, bahwa alumni dibutuhkan tenaga dan pikirannya olehnya negara.

Betapa bangganya almamater mereka bahwa alumni mereka sebagai pengambil kebijakan atau pembantu Menteri datang jauh-jauh dari Ibu Kota Jakarta.

Tentu itu akan jadi penyemangat buat adik-adik mahasiswa mereka, pemberi motivasi untuk alumni yang punya kompetensi bisa jadi sama namun perlu proses dan waktu untuk lebih matang.

Kampus tentu akan bangga jika dikunjungi pejabat dari pusat kekuasaan, bukan?

Keempat, karena mahasiswa, karena alumni ITB, Undip, UHO Kendari, Unpad Padjajaran tidak bsia sowan ke Jakarta atau menemui Menteri demi curhat realitas dan ekspektasi mereka kepada rezim di Jakarta, maka dengan datangnya Menteri ke kampus-kampus itu tentu bisa sebagai pelipur lara.

Tak bisa naik pesawat ke Jakarta, eh akhirnya bertemu Menteri di Pulau Soropia nan elok. Kira-kira begitu, kalau ambil case UHO Kendari yang ditemui MKP saat itu.

Pesan yang ingin disampaikan, laut masa depan bangsa ini ada di sekitar kita, warga biasa, tidak perlu jauh-jauh mengembara demi sesuap nasi, potensi laut dan ikanmu sungguh besar, ngapain ke ibukota?

Kelima, tidakkah keren dan membanggakan kalau misalnya, elite, Dirjen, Menteri sebagai Pembantu Presiden sowan, atau dolanan ke desa-desa, ke kampung-kampung, ke pesisir pulau jauh NKRI menemui rakyatnya, rakyat yang memilih mereka. “Rakyatku, kudatang kepadamu, karena kalian memilih aku.”

Pembaca sekalian, tulisan yang meliuk ke sana ke mari itu jika dikaitkan ke Musyawarah Besar IKA Universitas Hasanuddin yang akan digelar dalam waktu dekat, maka rasanya sangat menguntungkan jika di gelar di Makassar, minimal di sekitar Gedung Pertemuan Alumni (GPA) Tamalanrea dulu.

Mengapa?

Itu tadi. Kampus Unhas akan bangga, mahasiswa, dosen, civitas akademik akan melihat orang-orang terbaiknya, seperti Ketua IKA Fakultas datang menemui mereka di Makassar. Misal ada Apli yang Ketua IKA Samarinda di Kalimantan Timur, ada yang dari IKA Gorontalo, IKA Sulteng, dan lain-lain.

“Ada pade orang hebatnya fakultasku, yuk bertukar pengalaman dan ide.” Kira-kira begitu ucapan yunior, adinda, atau mahasiswa se-fakultas jika mereka bertemu di Makassar.

Kedua, transformasi yang baik adalah ketika akar masalah atau kebutuhan teridentifikasi faktual dan diperoleh sebagai first hand.information

Persoalan IKA Unhas atau strategi pengembangannya ke depan, akan sangat bergantung pada seberapa faktual data informasi disiapkan. Bukan ‘beli kucing dalam karung perencanaan’ sebagaimana banyak dipraktikkan di warkop atau relung gelap ibu kota.

Ya, datangi titik atau simpul perubahan itu, ajak ‘rakyat kampus’ jika ingin mendorong perubahan bersama.

Ketiga, saya kok kepikiran bahwa hampir semua alumni atau anggota IKA Unhas yang berdomisili di Jakarta sebagai orang mampu, berada dan punya kapasitas di atas rerata.

Beda dengan kami yang nirdaya, papa, pardokes (pinjam istlah Yasidin Kopizone) ini, beli tiket susahnya minta ampun. Apalagi pakai PCR, alias pacce, carru dan remo.

Keempat, inilah saatnya Unhas membuka etalase pengalaman, keahlian, kelembagaannya, para ahli, para teknokratnya, pada influecernya, pada inovatornya. Saya membayangkan saat Mubes nanti diawali dengan bedah buku, riset desa cepat, temui nelayan, temui petani, atau seminar Market Place dan IT innovation.

Keluarlah kalian akademisi Unhas, dari kotak pandora dan kotak-kotak laboratorium yang bisa jadi bikin mengantuk itu dan temui kolega yang ada di ketinggian IKA. Mari ke kampung halaman sendiri, di kampus tercinta.

Kelima, tidakkah kalian rindu atau bangga saat melihat leadership bapak bangsa kita, M. Jusuf Kalla melaporkan pencapaiannya di Makassar selama menjadi ketua IKA Unhas, bertahun-tahun?

Tidakkah itu monumental dan heroik saat Sang Pejuang Perdamaian itu menyampaikan kata kunci spriti, dan strateginya dalam pengembangan almamater, alumni, selama menjadi IKA Unhas? “Saya itu mau kalian begini, begitu….”

Bisa jadi tulisan ini tidak penting bagi yang enggan membawa JK ke Mubes IKA. Tidak perlu, jika memang masih menganggap IKA Unhas sekadar arisan di warkop-warkop sementara IKA tetangga sudah berkelana ke seluk beluk pengabdian di kampung halaman.

Tamarunang Gowa, 2 November 2021

Unhasian.com adalah platform media komunitas. Setiap penulis bertanggungjawab atas tulisannya masing-masing.

Jangan Lewatkan: